Tampilkan postingan dengan label KEBAHASAAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEBAHASAAN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Mei 2013

TEKNIK-TEKNIK MEMBACA CEPAT


BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
Manusia modern tampaknya tidak dapat melepaskan diri dari media komunikasi. Salah satu media komunikasi yang banyak dihadapi adalah media tulis baik buku teks maupun media massa. Pada era globalisasi, kegiatan membaca sudah menjadi hal yang lazim dalam kehidupan sebagian masyarakat.  Membaca bukanlah kegiatan alamiah, tetapi seperangkat komponen yang dikuasai secara pribadi dan bertahap, yang kemudian terintegrasi dan menjadi otomatis.
Tetapi dalam era yang serba cepat sekarang, ketika tanpa kita kehendaki tuntutan kehidupan meningkat, pembaca tak lagi boleh hanya sebagai membawa kenikmatan, tetapi sebagai alat pencapai percepatan itu sendiri. Artinya orang wajib mengejar semua informasi. Ia harus memiliki keterampilan mengumpulkan data dengan cepat sekaligus benar. Dan disini membaca cepat menjadi utama. Tidak ada orang yang dapat membaca cepat karena bakat. Maka itu harus dipahami bahwa membaca cepat bukanlah melulu cepat memecah kode dan segera menyelesaikan sebuah buku. Membaca cepat adalah bagaimana seseorang dapat membaca dengan pemahaman yang lebih baik dalam waktu lebih cepat serta mengingatnya dengan baik. Dalam makalah ini selanjutnya akan dipaparkan teknik-teknik membaca cepat.

  1. Rumusan Masalah
    1. Apakah yang dimaksud dengan membaca cepat?
    2. Bagaimana teknik-teknik yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat?


  1. Tujuan Penulisan
1.      Menjelaskan dan memaparkan tentang pengertian membaca cepat.
2.      Menjelaskan dan memaparkan tentang teknik-teknik yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Membaca Cepat
Soedarso dalam Yasrul Effendi (www.id.forums.wordpress.com) mengatakan  bahwa metode speed reading merupakan semacam latihan untuk mengelola secara cepat proses penerimaan informasi. Seseorang akan dituntut untuk membedakan informasi yang diperlukan atau tidak. Informasi itu kemudian disimpan dalam otak. Sedangkan Nurhadi  menyatakan  bahwa membaca cepat dan efektif ialah jenis membaca yang mengutamakan kecepatan, dengan tidak meninggalkan pemahaman terhadap aspek bacaannya (1987:31-32). Muchlisoh (1992:149) mengatakan bahwa membaca cepat bukan berarti jenis membaca yang ingin memperoleh jumlah bacaan atau halaman yang banyak dalam waktu yang singkat. Jenis membaca ini dilaksanakan tanpa suara. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa membaca cepat adalah jenis membaca yang mengutamakan kecepatan dengan menggunakan gerakan mata dan dilakukan tanpa suara yang bertujuan untuk memperoleh informasi secara tepat dan cermat dalam waktu singkat.
Jadi, membaca cepat adalah membaca yang dilakukan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Biasanya dengan membaca kalimat demi kalimat dan paragraf tetapi tidak membaca kata demi kata. Tujuannya adalah untuk memperoleh informasi, gagasan utama, dan penjelasan dari suatu bacaan dalam waktu yang singkat. Speed reading juga merupakan keterampilan yang harus dipelajari agar mampu membaca lebih cepat. Tidak ada orang yang dapat membaca cepat karena bakat.
Membaca cepat tentu saja bukan tujuan, sebab keterpahamanlah yang tujuan dalam membaca cepat. Dalam membaca cepat terkandung pemahaman yang cepat pula. Bahkan pemahaman inilah yang menjadi pangkal tolak pembahasan, bukannya kecepatan. Seorang pembaca yang baik akan mengatur kecepatan dan memilih jalan terbaik untuk mencapai tujuannya. Kecepatan membaca sangat tergantung pada bahan dan tujuan membaca, serta sejauh mana keakraban dengan bahan bacaan. Kecepatan membaca harus seiring dengan kecepatan memahami bahan bacaan.
B.     Teknik-Teknik Membaca Cepat
Tidak semua orang akan langsung mahir untuk membaca cepat. Keterampilan ini membutuhkan latihan yang mungkin bisa sampai berulang-ulang agar seseorang dapat menguasai teknik-teknik yang tepat dalam membaca cepat. Latihan-latihan ini dipandang penting untuk dilakukan karena biasanya seseorang yang baru pertama kali belajar membaca cepat akan menemui beberapa masalah yang bisa menjadi penghambat dalam membaca cepat. Syarat utama untuk dapat membaca cepat adalah mengetahui dengan persis bahan apa yang sedang dicari. Hal ini dapat dicapai dengan melakukan pemindaian secara cepat. Hanya mencari bagian-bagian yang dibutuhkan.
Untuk bisa membaca cepat memang perlu teknik tertentu. Secara umum ada dua teknik membaca yaitu:
1.      Teknik Scanning
Teknik membaca scanning adalah membaca suatu informasi dimana bacaan tersebut dibaca secara loncat-loncat dengan melibatkan asosiasi dan imajinasi, sehingga dalam memahami bacaan tersebut seseorang dapat menghubungkan kalimat yang satu dengan kata-kata sendiri. Jadi dalam teknik ini tidak seluruh kata/kalimat dibaca. Biasanya kata-kata kunci yang menjadi perhatian pembaca. Misalnya membaca koran, mencari judul-judul atau topik berita yang dianggap menarik.
Bagian-bagian yanag dapat dilompati antara lain
a.     Bagian yang telah diketahui dari buku lain
b.     Bagian yang berisi informasi yang tidak memenuhi tujuan membaca
c.      Bagian yang hanya merupakan contoh atau ilustrasi
d.     Bagian yang merupakan ringkasan bab sebelumnya.
2.       Teknik Skimming
Teknik membaca Skimming adalah membaca secara garis besar (sekilas) untuk mendapatkan gambaran umum isi buku. Setelah itu melacak informasi yang ingin diketahui secara mendalam. Untuk memperlancar proses skimming maka lakukanlah terlebih dahulu membaca daftar isi, kata pengantar, pendahuluan, judul atau sub judul, serta kesimpulan. Dari bagian-bagian buku ini minimal kita bisa menafsirkan apa inti dari isi buku yang akan kita baca tersebut. Teknik ini biasanya dilakukan ketika kita mencari sesuatu yang khusus dalam teks. Fungsi skimming adalah
a.   Untuk mengenali topik bacaan
b.   Untuk mengetahui pendapat/opini orang
c.   Untuk mendapatkan bagian penting yang kita butuhkan
d.   Untuk mengetahui organisasi penulisan, urutan ide pokok, dan cara
berpikir penulis.
e.   Untuk penyegaran apa yang pernah dibaca.
3.   Membaca visual,
Membaca visual yaitu mengejar kelompok kata dengan urutan mana suka. Cara ini cocok untuk memahami bacaan yang agak sulit serta yang mudah.
Langkah-langkah membaca cepat
Sebelum melatih membaca cepat, kita perlu paham beberapa langkah membaca cepat, yaitu:
1.       Persiapan
Tahap persiapan ini dimulai dengan membaca judul. Judul ini ditafsirkansesuai dengan asosiasi dan imajinasi serta pengalaman yang telah dialami. seseorang bisa menafsirkan isi bacaan dari judul yang dibaca. Hubungkan pengalaman/wawasan yang dimiliki sengan judul bahan bacaan yang akan dibaca. Kemudian perhatikan gambar dan keterangan gambar dari materi yang akan dibaca. Biasanya gambar atau ilustrasi dalam buku mengilustrasikan isi bacaan. Oleh karena itu simbol visual ini dapat membandtu kita memahami isi bacaan. Selanjutnya kita perlu memperhatikan huruf cetak tebal/huruf miring. Huruf yang dicetak berbeda ini melambangkan kata/kalimat penting dalam isi bacaan. Langkah selanjutnya adalah membaca alinea awal dan akhir. Alinea awal mengantarkan pembaca pada isi bacaan, sedangkan alinea akhir biasanya berupa pokok pikiran dari isi bacaan. Melalui aliena awal dan akhir ini dapat membantu kita menafsirkan keseluruhan isi bacaan. Kemudian kita perlu baca juga rangkuman bacaan.
2.      Pelaksanaan
Jika telah melaksanakan tahap persiapan tadi, kita sudah bisa membayangkan gambaran umum isi bacaan dalam buku yang akan dibaca. Selanjutnya kita dapat memulai membaca cepat dengan menggunakan dua teknik tadi yaitu scaning dan skimming. Di sini kita bisa mencari kata-kata kunci yang ada dalam kalimat, selanjutnya dihubungkan melalui asosiasi dan imajinasi sehinga bisa dengan cepat mengambil inti sari isi bacaan tampa harus membaca seluruh isi buku

Untuk menguasai keterampilan membaca cepat, kita perlu latihan. Latihan ini meliputi latihan otot mata, pheriperial mata, dan latihan pernapasan.
 a. Melatih otot mata
Melatih otot mata dapat dilakukan dengan cara gerakan bola mata dalam keadaan terpejam ke atas ke bawah, lalu samping kiri dan kanan. Latihan ini harus dilakukan secara continue minimal selama 14 hari, masing-masing selama lima menit tanpa harus putus. Apabila satu hari saja tidak latihan, maka otot mata akan kembali ke keadaan sebelum latihan.
b. Melatih Pheriperal Mata
Melatih pheriperal mata dapat dilakukan dengan cara pandangan mata mengikuti gerakan telunjuk di depan mata. Tujuannya agar mata kita dapat menjangkau seluruh bacaan tanpa menggeleng-gelengkan kepala, karena menggelengkan kepala itu menghambat membaca cepat.
c. Melatih Pernapasan
Melatih prnapasan dapat dilakukan dengan cara tarik napas panjang keluarkan secara perlahan. Kemudian latihan konsentrasi yang berhubungan dengan sikap duduk, tegak, libatkan asosiasi dan imajinasi. Di sini usahakan seolah-olah sedang berkomunikasi dengan sang penulis.
Kebiasaan-kebiasaan yang dimiliki seseorang dalam membaca pun secara tidak sadar bisa menjadi penghambat untuk bisa membaca dengan cepat. Kebiasaan-kebiasaan yang biasanya sudah dimiliki selama bertahun-tahun ini di antaranya:
  1. vokalisasi atau bergumam ketika membaca;
  2. membaca dengan menggerakkan bibir namun tidak bersuara (komat-kamit);
  3. kepala yang bergerak searah dengan arah tulisan yang dibaca;
  4. jari-jari tangan yang selalu menunjuk tulisan yang dibaca;
  5. gerakan mata yang selalu kembali ke kata-kata sebelumnya atau mengulang membaca kalimat dari depan;
  6. membaca di dalam hati.
Untuk mengatasi masalah-masalah ini, usahakan untuk mencegah bibir, jari-jari tangan, dan kepala untuk bergerak pada saat membaca. Cara pencegahannya bisa dengan mengatupkan bibir, memasukkan tangan ke dalam saku atau memegangi kepala pada waktu membaca. Sedangkan untuk menghindari supaya tidak bersuara pada waktu membaca adalah dengan merasakan getaran suara di leher. Dengan meletakkan tangan di leher, akan diketahui apakah kita bersuara atau tidak. Membaca dalam hati memang tidak bisa dicegah, tetapi usahakan supaya tidak memerhatikan pelafalannya.
Berikut ini ada beberapa langkah yang bisa digunakan untuk membantu mengatasi masalah-masalah dalam membaca cepat.
  1. Miliki kosakata yang luas. Jika saat ini masih memiliki kosakata yang terbatas, ada cara-cara yang bisa ditempuh untuk mengatasinya, yaitu dengan menyiapkan catatan kata-kata baru yang belum diketahui. Setelah itu, carilah artinya di dalam kamus. Perbendaharaan kata yang banyak sangat membantu dalam memahami suatu bacaan.
  2. Sikap tubuh membaca cepat memang memerlukan konsentrasi yang tinggi. Tidak jarang pembaca justru berada dalam posisi tegang. Kondisi yang seperti ini justru menjadi penghambat. Untuk itu, ambilah posisi santai saat membaca.
  3. Membaca sepintas lalu dengan membaca sepintas lalu, dapat mengantisipasi hal-hal yang mungkin akan terjadi.
  4. Konsentrasi. Konsentrasi yang penuh menghindarkan dari melamun atau pikiran yang melayang-layang. Kesulitan dalam berkonsentrasi menunjukkan kecepatan membaca yang rendah. Untuk itu, usahakan agar selalu berkonsentrasi ketika membaca cepat.
  5. Retensi/mengingat kembali informasi dari bacaaan. Mengingat kembali informasi yang baru saja dibaca bisa dilakukan dengan beberapa cara, misalnya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan, diskusi, maupun menulis kembali informasi yang sudah diterima.
  6. Tujuan dari membaca itu sendiri. Dengan menentukan tujuan dari membaca, akan mengetahui apakah bacaan tersebut sesuai dengan kebutuhan atau seperti yang diinginkan.
  7. Motivasi. Motivasi yang jelas dalam membaca akan memengaruhi tingkat pemahaman bacaan. Jika sudah memiliki motivasi yang jelas dalam membaca suatu bacaan, akan lebih mudah menyerap informasi dalam bacaan tersebut. Untuk itu, tumbuhkanlah motivasi dalam membaca.

Teknik SQ3R

Teknik ini sangat membantu kita dalam menyerap informasi tertulis. Teknik ini menggunakan metode penahapan dalam membaca.
1. Survey
Pemindaian terhadap daftar isi, pendahuluan, bab pertama atau pengantar dan bagian ringkasan untuk mendapatkan gambaran umum isi buku. Tujuan survei adalah
  1. Mempercepat menangkap arti
  2. Mendapatkan abstrak
  3. Mengetahui ide-ide penting
  4. Melihat susunan (organisasi) bahan bacaan.
  5. Mendapatkan minat perhatian yang seksama terhadap bacaan.
  6. Memudahkan mengingat lebih banyak dan memahami lebih mudah.
2. Question
Membuat daftar pertanyaan yang berkaitan dengan bahan-bahan yang sedang dicari. Pertanyaan ini dapat digunakan sebagai tujuan utama di dalam membaca buku tersebut.
3. Read
Sekarang bacalah isi buku tersebut. Lewati bagian yang kurang menarik. Ketika sampai bagian yang dapat digunakan sebagai bahan penulisan, bacalah dengan cermat.

4. Recall
Ketika membaca uraian yang dibutuhkan, maka pahami isinya dan ingat-ingatlah bagian itu. Simpanlah kata-kata kunci di dalam ingatan. Proses ini sangat penting jika akan melakukan parafrasa bacaan tersebut sehingga tidak melanggar hal cipta karena melakukan plagiat.
5. Review
Setelah mengingat-ingat, dapat mengulas materi yang didapatkan. Tindakan ini dapat dilakukan dengan membaca ulang uraian dalam buku tersebut, mengembangkan catatan atau mendiskusikannya dengan orang lain. Cara lain yang sangat efektif adalah mengajarkan informasi itu kepada orang lain.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Membaca cepat adalah jenis membaca yang mengutamakan kecepatan dengan menggunakan gerakan mata dan dilakukan tanpa suara yang bertujuan untuk memperoleh informasi secara tepat dan cermat dalam waktu singkat. Kecepatan membaca sangat tergantung pada bahan dan tujuan membaca, serta sejauh mana keakraban dengan bahan bacaan. Kecepatan membaca harus seiring dengan kecepatan memahami bahan bacaan. Untuk bisa membaca cepat diperlukan beberapa teknik tertentu, yaitu teknik scanning dan teknik skimming. Teknik scanning adalah membaca suatu informasi dimana bacaan tersebut dibaca secara loncat-loncat dengan melibatkan asosiasi dan imajinasi. Sedangkan teknik skimming adalah membaca secara sekilas untuk mendapatkan gambaran umum isi buku.
B.     Saran
1.      Sebaiknya masyarakat dan pemerintah melakukan tindakan yang dapat meningkatkan minat baca di kalangan pelajar maupun masyarakat umum.
2.      Masyarakat hendaknya mulai membiasakan diri membaca cepat karena banyak manfaat yang dapat diambil.


DAFTAR PUSTAKA

Agustinus Suyoto. Sistem Membaca Cepat dan Efektif. www. bhsindo.multiply.com. Diakses pada Senin, 24 Februari 2009.

Christiana Ratri Yuliani. Teknik Membaca Cepat. www. drssuharto.wordpress.com. Diakses pada Senin, 24 Februari 2009.
Purnawan Kristanto. Teknik Membaca Cepat. www. tagliners.blogspot.com.  Diakses pada Senin, 24 Februari 2009.
Yasrul Efendi. Peningkatan Kemampuan Membaca Cepat dengan Menggunakan Metode Speed Reading. www.id.forums.wordpress.com. Diakses pada Senin, 24 Februari 2009.






Rancangan Bahasa Indonesia Menghadapi Era Globalisasi


Langkah perencanaan  bahasa meliputi penelitian bahasa dan rencana penanganan msalah bahasa di masa depan. Sejauh ini,  kosakata dan tata bahasa menjadi telaah bahasa yang kemudian berkembang ke aspek fonologi yang di dalamnya memanfaatkan imu fisika. Selanjutnya, telaah bahasa dipengaruhi oleh sosiologi, sehingga telaah bahasa juga mencakup masyarakat.
  Pada perkembangan selanjutnya,  telaah bahasa Indonesia memasuki fungsi politis dan sosiologis. Bahasa Indonesia digunakan dalam kepentingan organisasi dan pers yang dapat membangkitkan semangat persatuan bangsa. Semangat itu telah menjiwai para pejuang yang akhirnya mencetuskan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 pada Kongres Pemuda Kedua di Jakarta. Dalam Sumpah Pemuda itu dinyatakan pengakuan terhadap satu tanah air dan satu bangsa, Indonesia, serta menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
 Proklamasi Kemerdekaan dinyatakan dalam bahasa Indonesia dan sehari kemudian bahasa itu diangkat sebagai bahasa resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam Undang-Undang Dasar 1945 (Pasal 36). Kini fungsi itu dikukuhkan dalam sistem pendidikan, yaitu bahwa bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa pengantar pendidikan nasional (Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 33).
S.T. Alisjahbana kemudian terinspirasi untuk menulis tentang bahasa Indonesia yaitu  “Bahasa Indonesia” dalam Poedjangga Baroe (1933) dan Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia (1953).  Dan diikuti para ahli lain.  Penanganan masalah kebahasaan dilakukan secara kelembagaan setelah berdirinya lembaga yang menangani masalah kebahasaan tahun 1947, yaitu Instituut voor Taal en Cultuur Onderzoek yang kini bernama Pusat Bahasa. Perubahan sistem tulis atau ejaan Ch. A.van Ophuijsen ke dalam Ejaan Republik (1947) oleh Soewandi, Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan merupakan upaya penyerdehanaan ejaan.
Penanganan masalah bahasa di Indonesia dipengaruhi oleh kemajuan linguistik di Eropa dan Amerika. Pada  tahun 1959, Indonesia dan Malaysia melakukan pembaruan sistem ejaan bahasa kebangsaan kedua negara. Akhirnya disetujui ejaan bersama yang disebut Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan pada tahun 1972. Kerja sama Dengann Malaysia itu dilanjutkan Dengann pengembangan istilah sejak tahun 1975 dan bersama Brunei Darussalam sejak tahun 1985. Penanganan bahasa dilanjutkan dengan pengembangan kosakata yang akhirnya melahirkan Kamus Besar Bahasa Indonesia 1988 dan penanganan tata bahasa melahirkan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia 1988. Pada akhirnya penanganan itu meliputi pengembangan tes bahasa Indonesia, Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia 2001. Perjalanan sejarah pencatatan bahasa bermanfaat dalam upaya penyusunan perencanan bahasa di Indonesia.
Perkembangan ilmu dan teknologi membuat  penggunaan bahasa asing menjadi marak, khususnya bahasa Inggris. Di sisi lain, pemberlakuan otonomii daerah telah memepengaruhi sistem pemerintahan dan pengelolaan masalah kebahasaan dan kesastraan di daerah. Penggunaan bahasa di media televisi sudah amat memprihatinkan kehidupan generasi muda ke depan.
Atas dasar pemikiran tersebut, perencanaan bahasa harus dilakukan secara terencana, menyeluruh, dan berkelanjutan. Masalah kebahasaan di Indonesia meliputi tiga kelompok masalah, yaitu masalah bahasa nasional, bahasa daerah, dan masalah penggunaan bahasa asing. Ketiga masalah itu saling berkaitan,  namun, pada tulisan ini akan lebih menekankan perencanaan bahasa nasional, yaitu bahasa Indonesia, yang meliputi upaya peningkatan mutu bahasa, pemantapan sistem bahasa, peningkatan mutu penggunaan bahasa, peningkatan kepedulian masyarakat terhadap bahasa, pengadaan sarana kebahasaan, dan peningkatan mutu tenaga kebahasaan, serta kelembagaan.
1.     Peningkatan Mutu Bahasa Indonesia
Perkembangan ilmu dan teknologi serta arus barang, jasa, dan tenaga kerja yang masuk Indonesia tersebut menyebabkan adanya pengaruh bahasa asing ke Indonesia. Baik dari segi bahasa dan kebudayaannya.  Hal itu dapat diatasi dengan  pengembangan kosakata/istilah Indonesia dalam bidang-bidang tersebut. 
Di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, laju perkembangan dilakukan melalui kerja sama kebahasan Majelis Bahasa Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia (Mabbim). Kerja sama yang diawali dengan  penyaman sistem ejaan bersama (1972) itu, sejak tahun 1980-an mulai menggarap peristilahan bidang ilmu dan teknologi. Pengembangan peristilahan itu kini telah menghasilkan sekitar 340.000 istilah berbagai bidang ilmu (seperti kimia, fisika, matematika, biologi, filsafat, farmasi, kedokteran, pertanian, kehutanan, teknologi komunikasi, agama, dan pendidikan). Istilah itu telah dimasyarakatkan melalui penerbitan senarai atau glosarium bidang ilmu. Agar tidak tertinggal dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, peristilahan bidang ilmu yang telah dihasilkan itu harus terus dikembangkan.
 Perkembangan bidang teknologi telah mencapai kemajuan yang pesat. Salah satunya adalah dengan munculnya komputer yang bukan  hanya mempermudah tulis dan cetak, tetapi telah mampu mempermudah laju  komunikasi. Hal ini  telah melahirkan kosakata atau istilah baru di bidang itu. Karena teknologi datang dari mancanegara, kosakata atau istilah yang digunakan dalam bahasa asing, bahasa Inggris. Kosakata atau istilah bidang ilmu itu harus segera dialihkan  ke dalam bahasa Indonesia, agar tidak mengalami kendala ke depannya.
Pengembangan kosakata atau istilah juga harus mencakup bidang kebudayaan. Pengembangan kosakata bidang itu dapat memanfaatkan sumber kekayaan dari bahasa daerah di seluruh wilayah penggunaan bahasa Indonesia. Ini juga dapat digunakan sebagai upaya pelestarian bahasa daerah di Indonesia.  Untuk itu, perlu dilakukan penelitian kosakata bahasa daerah. Kosakata bahasa daerah yang tidak memiliki padanan dalam bahasa Indonesia, sebaiknya, dimasukkan ke dalam warga kosakata bahasa Indonesia. Jika terdapat perbedaan dalam lafal atau dalam ejaannya dengan sistem bahasa Indonesia, perlu dilakukan penyesuaian dengan sistem lafal dan ejaan dalam bahasa Indonesia. Ini ditulis dalam Pedoman Umum Pembentukan Istilah.
Percepatan pengembangan kosakata itu,  harus diimbangi dengan pemantapan sistem bahasa. Penelitian berbagai aspek bahasa, seperti fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, sosiolinguistik, dan dialektologi, terus dilakukan dan ditingkatkan mutunya agar diperoleh data yang akurat untuk memantapkan sistem bahasa Indonesia. Sementara itu, kodifikasi yang telah dihasilkan, baik dalam bentuk kamus, tata bahasa maupun buku-buku pedoman, perlu terus disempurnakan dan dimutakhirkan berdasarkan hasil penelitian tersebut. Hal akan menumbuhkan kembali kepercayan masyarakat akan kemampuan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu dan teknologi, serta sebagai lambang jati diri dan kebanggaan nasional pada era globalisasi.
2.      Peningkatan Mutu Penggunaan Bahasa Indonesia
Peningkatan mutu penggunaan bahasa Indonesia itu meliputi bidang ilmu dan teknologi, serta kebudayan. Ada dua langkah yang dapat ditempuh, yaitu penelitian terhadap semua jenis dan ragam dokumen tulis dan lisan, dan pemeriksaan semua bahan yang akan dicetak terhadap penggunaan bahasa Indonesia. Penelitian terhadap semua jenis dan ragam dokumen tulis dan lisan dilakukan untuk memperbaiki dokumen yang telah dihasilkan. Sedangkan , pemeriksaan semua bahan yang akan dicetak terhadap penggunaan bahasa Indonesia dimaksudkan untuk mencegah pencetakan dan peredaran buku/publikasi yang penggunaan bahasanya tidak baik.
3.      Peningkatan Kepedulian terhadap Bahasa Indonesia
Agar bahasa Indonesia tidak tergeser oleh bahasa-bahasa utama dunia, diperlukan adanya  pengukuhan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia di tengah-tengah masyarakat. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan mengadakan penyuluhan tentang pentingnya penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar kepada masyarakat. Dalam hal ini, sebaiknya pemerintah berperan aktif di dalamnya.  Selain itu juga dapat melalui iklan layanan masyarakat.  Untuk itu, perlu adanya suatu sistem pengajaran dan pengajar yang mengedepankan penggunaan  bahasa Indonesia secara baik dan benar.
Berbagai upaya lain juga dapat digunakan. Misalnya dengan mengadakan bengkel sastra di sekolah, kepedulian para jurnalis atau pers, dan pemberian penghargaan terhadap pengguna bahasa Indonesia yang baik.  
4.   Pengembangan Sarana Kebahasaan
Berbagai upaya di atas harus diikuti dengan pengembangan sarana kebahasaan. Sarana itu dapat berupa berbagai buku acuan dan panduan serta sarana informasi kebahasaan. Selain harus tersedia buku tata bahasa dan buku panduan lainnya serta kamus ekabahasa, , juga perlu disediakan kamus dwibahasa Indonesia-asing. Sedangkan , untuk keperluan masyarakat internasional masuk Indonesia, perlu disediakan kamus bahasa asing-Indonesia. Penyediaan sarana juga meliputi perangkat informasi kebahasaan, baik dalam bentuk cetak maupun elektronis. Yang terpenting adalah dengan menyediakan sarana kepustakaan di lingkungan masyarakat. 
5.   Pengembangan Tenaga Kebahasaan dan Publikasi
Pelaksanaan berbagai kegiatan di atas memerlukan tenaga kebahasaan yang memadai dari segi jumlah ataupun mutu. Pengembangan tenaga kebahasaan dapat dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan, keikutsertaan dalam pertemuan ilmiah, nasional ataupun internasional.
Publikasi diperlukan untuk menyebarluaskan hasil pengembangan kosakata atau istilah dan pemantapan kodifikasi. Publikasi dapat berupa cetak maupun elektronik. Sebaiknya dapat menjangkau kelompok masyarakat pembaca buku ataupun masyarakat yang telah menggunakan jasa elektronismasyarakat secara menyeluruh. Sehingga pemahaman masyarakat dalam penggunaan bahasa dapat berkualitas.  
Bangsa Indonesia tengah dihadapkan pada  tatanan kehidupan modern kehidupan global. Salah satu sarana penting dalam menghadapi situasi globalisasi adalah adanya bahasa sebagai sarana komunikasi. Berbagai upaya pengembangan bahasa menuju bahasa modern tersebut diharapkan melahirkan para suatu generasi yang menjadikan bahasa Indonesia suatu kebanggaan dan bahasa jiwa. Dengan demikian, bahasa Indonesia dapat berkembang dan mampu bersaing dengan bahasa-bahasa internasional di era globalisasi.  Peningkatan mutu pengajaran juga penting agar dapat memperbaiki citra bahasa Indonesia di dunia internasional.