Tampilkan postingan dengan label MONOLOG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MONOLOG. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Mei 2013

BAHAGIA ADALAH PILIHAN

"Apa yang kau lakukan di sana, gadis?"

"Tidak ada"

"Lalu, untuk apa kau terdiam di sudut sana?"

"Tidak tahu"

"Kau sedang bersedih?"

"Barangkali"

"Kau terluka?"

"Mungkin juga"

"Tapi kau tidak menangis"

"Aku tidak bisa menangis"

"Kenapa?"

"Entahlah. Mungkin aku tercipta bukan untuk menangisi hidupku"

"Kalau begitu, tertawalah!"

"Aku lupa cara tertawa"

"Bagaimana bisa?"

"Karena sudah lama aku tidak tertawa dengan sewajarnya"

"Kau benar-benar menyedihkan"

"Benarkah? SungGuhkah begitu kelihatannya?"

"Nyata sekali. Aku heran, kau sebenarnya punya perasaan atau tidak. Tidak menangis juga tidak tertawa."

"Mungkin aku memang tak berperasaan. Atau.. Perasaanku tak berfungsi sebagaimana mestinya. Aku sudah mati rasa."

"Hmm.. Naas"

"Apakah aku tak pantas hidup?"

"Tak ada manusia yang tak pantas hidup. Bahkan nyamuk yang selalu mengisap darah manusia itu pun pantas hidup."

"Tapi semua orang membenci mereka."

"Itu karena manusia tak mau diGangGu. Mereka menyukai rasa nyaman."

"Aku juga menginginkan rasa nyaman"

"Kau merasa nyaman dengan berlaku seperti itu?"

"Aku harap. Di sini tak ada orang yang akan memperhatikanku. Tak ada yang menatapku dengan penuh kebencian. Tak ada yang menghujatku. Tak ada yang menyakitiku."

"Dan kau bahagia?"

"Tidak"

"Kenapa? Bukankah kau merasa nyaman?"

"Aku kesepian"

"Lalu kenapa kau tak berlari keluar sana? Di sana banyak orang. Kau tak akan kesepian."

"Bagaimana jika mereka membenciku? Bagaimana jika mereka menyakitiku?"

"Dan bagaimana jika ternyata mereka justru menyayangimu? Apa yang kau takutkan? Kau takut terluka? Bukankah kau tak bisa menangis?
Dan kau bilang kau lupa cara tertawa. Kenapa tak belajar dari mereka?"

"Seperti itukah?"

"Ya. Keluarlah. Lihat, ada bermacam-macam orang. Mereka tertawa, takjub, tersipu. Lihat, di sana ada yang menangis. Tapi ia tak bersembunyi sepertimu."

"Ya, kau benar. Aku haruz keluar dari sini"

KAU MELIHATKU?

Aku tersenyum pada seseorang.
Tapi ia tak membalas.
Ia diam saja seakan tak menganggapku ada.
Lalu kusapa ia.
Tapi ia juga tak bereaksi apa-apa.
Kukira ia tak mendengarku.
Kemudian ia kusentuh.
Tapi ia juga tak bergeming.
Apa yang sesungguhnya terjadi?
Apakah ia buta, tuli?
Tapi mengapa ia juga tak merasakan sentuhanku?
"hei, apa kau melihatku?" tanyaku akhirnya.
Tak ada jawaban.

Kesal, kutinggalkan ia.
Kudekati salah seorang yang lain.
Ia tengah membaca.
Pastilah ia dapat melihat.
"hai," kusapa ia.
Tapi ia juga tak bereaksi.
Aku duduk tepat di sebelahnya.
Tentulah ia akan melihat.
Tapi ia bahkan tak mengalihkan pandangan dari buku itu.

Bah.. Ada apa dengan orang-orang di sini?

Aku mendapati seseorang yang habis menelepon.
Tentulah ia akan mendengarku.
Lagi-lagi aku memulai dengan menyapa.
Tapi ia tak bereaksi.
Seakan tak mendEngar suaraku.
Aku mulai marah.
Kunaikkan volume suaraku.
Ia tetap diam.
Ada apa dengan orang - orang ini.

Kesal, aku berteriak sekeras-kerasnya.
Begitu banyak orang, tapi tak ada satupun yang menghiraukanku.
Mereka tak menyadari kehadiranku.
Tidak! Apa yang terjadi?
Kenapa mereka tak menghiraukanku?
Mengapa mereka tak mendengar suaraku?
Tak adakah seorangpun yang menyadari kehadiranku?
Apakah aku ini tak terlihat?

Yah.. Aku memang tak terlihat.
Ternyata aku hanyalah sebuah bayang-bayang.
Tak nampak, tak berarti.

Mengapa aku menjadi bayang-bayang?
Mereka yang menganggapku seperti itu?
Atau justru aku yang memilih tuk menjadi bayang-bayang?
Karena tak terlihat, terasa lebih nyaman?